Bahaya di Ketinggian: Mengenal AMS dan Hipotermia

Bahaya di Ketinggian: Mengenal AMS dan Hipotermia
February 19, 2026

chicanopark.org – Bayangkan Anda sudah mendaki selama berjam-jam melewati medan berbatu yang terjal. Puncak gunung yang diimpikan akhirnya sudah di depan mata. Namun tiba-tiba, kepala Anda terasa seperti dihantam palu godam. Napas menjadi sangat tersengal-sengal, dan tubuh menggigil hebat meski sudah memakai jaket tebal. Terdengar seperti adegan film thriller? Sayangnya, ini adalah realitas mematikan yang sering diabaikan oleh para pendaki pemula. Sering kali, nyawa menjadi taruhan hanya demi sebuah konten di media sosial.

Coba pikirkan sejenak. Mendaki gunung bukanlah sekadar berjalan menanjak melewati pepohonan rindang. Faktanya, semakin tinggi Anda melangkah, semakin tipis oksigen yang tersedia. Suhu udara pun akan semakin brutal menyergap tulang. Alam liar tidak akan pernah berkompromi dengan ego manusia.

Oleh karena itu, sekadar berbekal sepatu trekking dan jaket jenama ternama saja sama sekali tidak cukup. Memahami Bahaya di Ketinggian: Mengenal AMS dan Hipotermia adalah ilmu pertahanan hidup (survival) yang mutlak dikuasai. Selanjutnya, mari kita bedah anatomi dua pembunuh tak kasat mata ini agar perjalanan Anda tidak berujung pada tragedi evakuasi tim SAR.

1. AMS (Acute Mountain Sickness): Si Penjagal Tak Kasat Mata

Sering kali pendaki merasa mual dan pusing saat tiba di pos pendaftaran awal. Mereka sering mengira itu hanya masuk angin biasa akibat mabuk kendaraan. Padahal, itu bisa jadi adalah gejala awal dari AMS atau penyakit ketinggian.

  • Fakta & Data: Penyakit AMS bisa menyerang siapa saja secara acak, tidak peduli seberapa atletis tubuh Anda. Menurut studi dari Wilderness Medical Society, sekitar 25% pendaki yang berada di atas elevasi 2.400 mdpl akan mengalami gejala AMS ringan.

  • Insight Keselamatan: Jangan pernah memaksakan diri naik jika kepala mulai terasa nyut-nyutan. Obat warung tidak akan banyak membantu. Sebenarnya, turun ke elevasi yang lebih rendah adalah satu-satunya obat paling mujarab untuk meredakannya.

2. Mengapa Paru-Paru Anda Terasa “Tercekik”?

Tubuh manusia pada dasarnya didesain untuk hidup nyaman di dataran rendah. Saat Anda memaksanya naik ke gunung, tekanan barometrik udara akan turun drastis. Akibatnya, molekul oksigen menyebar semakin renggang.

  • Fakta & Data: Mari kita ambil contoh Gunung Gede atau Gunung Sindoro. Pada ketinggian 3.000 mdpl tersebut, kadar oksigen yang efektif dihirup paru-paru akan anjlok hingga 30%. Pantas saja paru-paru terasa seperti terbakar.

  • Tips Pendakian: Anda wajib melakukan aklimatisasi (penyesuaian tubuh). Terapkan prinsip pendakian climb high, sleep low (mendaki tinggi, tidur di titik rendah). Dengan demikian, tubuh memiliki cukup waktu untuk memproduksi lebih banyak sel darah merah.

3. Hipotermia: Saat Tubuh Lupa Cara Menghangatkan Diri

Masih banyak pendaki amatir yang bergaya mengenakan celana jeans ke gunung. Saat hujan turun dan angin kencang menerpa, jeans basah itu langsung berubah menjadi lemari es berjalan. Di sinilah hipotermia mulai menyerang dan melumpuhkan saraf.

  • Fakta & Data: Hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh manusia merosot drastis di bawah 35°C. Kasus terburuk di pegunungan tropis Indonesia justru bukan disebabkan oleh badai salju. Melainkan, akibat kombinasi maut antara angin kencang dan pakaian yang basah kuyup oleh keringat atau hujan.

  • Insight Peralatan: Terapkan sistem layering atau pakaian berlapis. Hindari penggunaan bahan katun karena sangat lama kering. Sebaiknya, gunakan base layer sintetis (quick-dry) yang mampu menyerap keringat dan membuangnya ke luar.

4. Gejala “Paradoxical Undressing” yang Menyesatkan

Anda mungkin pernah mendengar cerita horor. Ada pendaki ditemukan tewas membeku, tetapi anehnya ia dalam keadaan setengah telanjang. Banyak yang mengaitkannya dengan hal mistis atau kesurupan. Padahal, penjelasan medisnya sangatlah logis.

  • Fakta & Data: Pada tahap hipotermia tingkat berat, hipotalamus (pengatur suhu di otak) mulai rusak. Pembuluh darah perifer yang tadinya menyempit akan tiba-tiba melebar drastis. Hal ini memberikan ilusi rasa panas luar biasa, sehingga korban secara irasional melepas pakaiannya (paradoxical undressing).

  • Tips Pertolongan: Jika teman Anda menggigil hebat lalu tiba-tiba berhenti dan merasa kepanasan, itu adalah tanda bahaya merah! Segera ganti pakaian basahnya. Kemudian, masukkan ia ke dalam sleeping bag bersama botol berisi air hangat yang dibalut kain.

5. Mitos Konyol: Minum Alkohol Bikin Hangat

Menenggak minuman keras di basecamp sering dianggap sebagai tradisi macho untuk melawan hawa dingin. Faktanya, kepercayaan ini adalah sebuah kebodohan fatal yang membahayakan nyawa.

  • Fakta & Data: Secara medis, alkohol justru melebarkan pembuluh darah di permukaan kulit (vasodilatasi). Anda memang akan merasa hangat sesaat. Namun sebenarnya, suhu inti tubuh Anda sedang menguap bebas ke udara dingin. Risiko kematian akibat hipotermia akan meningkat dua kali lipat.

  • Insight Konsumsi: Buang botol alkohol Anda. Sebagai gantinya, seduhlah minuman manis hangat, cokelat, atau air jahe. Gula akan memberikan asupan kalori instan yang siap dibakar oleh tubuh menjadi panas alami.

6. Jangan Menjadi Beban Tim: Sadari Batas Diri

Ego adalah musuh paling mematikan saat berada di alam liar. Berpura-pura kuat saat dada sudah terasa sesak hanya akan menyusahkan dan membahayakan keselamatan satu tim penuh.

  • Fakta & Data: Statistik laporan dari Basarnas sangat mengejutkan. Mayoritas korban tewas di gunung bukan karena diserang hewan buas atau tersesat. Faktor utamanya adalah karena memaksakan diri menanjak saat kondisi medis sudah menurun drastis.

  • Tips Etika: Komunikasi adalah kunci keselamatan. Jujurlah pada pimpinan (leader) rombongan jika Anda merasa mual, pusing, atau pandangan mulai kabur. Ingatlah, puncak gunung tidak akan lari ke mana-mana dan selalu bisa didaki lain waktu.


Kesimpulannya, gunung adalah tempat bermain yang sangat indah sekaligus tak kenal ampun. Alam liar tidak memiliki belas kasihan bagi mereka yang sombong dan kurang persiapan. Membekali diri dengan peralatan mahal saja tidak akan pernah cukup. Anda harus melengkapinya dengan pengetahuan medis dasar.

Memahami Bahaya di Ketinggian: Mengenal AMS dan Hipotermia adalah wujud nyata tanggung jawab Anda. Anda bertanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga yang menunggu di rumah, dan tentu saja rekan satu tim. Jadi, sebelum mengemasi carrier akhir pekan ini, sudahkah Anda bersiap untuk skenario terburuk? Jadilah pendaki yang cerdas, dan pastikan Anda pulang kembali dengan selamat!

Tags: , , , , ,